Sabtu, 04 Oktober 2014

Adat Minang Kabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang

         Kali ini saya akan membahas pola dan tujuan hidup orang minang, tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber, baik itu dari literatur, diskusi dari keluarga saya sendiri, dari para ahli, dari niniak mamak, dari bundo kanduang, alim ulama, cendikiawan, para pakar adat, dan pencinta adat minang, kebetulan juga saya keturunan minang dan berasal dari keluarga minang .

ADAT SOPAN SANTUN DALAM SUKU MINANG KABAU
1. Arti Adat Bagi Orang Minang
         Kalau orang minang ditanya adat itu apa ? jawabannya sederhana saja. peraturan hidup sehari-hari. kalau hidup tanpa aturan bagi orang minang namanya "tak beradat". jadi aturan itulah yang dinamakan adat. adat itulah yang menjadi pakaiannya sehari-hari.
           Bagi orang minang, duduk dan berdiri selalu beradat, berbicara beradat, berjalan beradat, makan dan minum beradat, bertamu beradat, bahkan, menguap dan batuk pun bagi orang minang beradat. adat yang semacam ini, mungkin dapat kita sebut dengan adat sopan santun dalam pergaulan segari-hari. apakah adat minang hanya mengatur sopan santun dalam pergaulan saja ? Jawabnya pastilah tidak. Masih banyak aturan-aturan lain yang terdapat dalam adat minang, yang justru mengatur hal-hal yang sangat mendasar.
           Hal-hal yang sangat mendasar itu seperti landasan berpikir, nilai-nilai dalam kehidupan, norma-norma dalam pergaulan, falsafah hidup, dan hukum-hukum yang harus dipatuhi. Kalau dipelajari lebih mendalam, adat minang itu sesungguhnya adalah suatu konsep kehidupan yang disiapkan nenek moyang orang minang untuk anak cucunya, yang bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.
            Contoh beradat itu misalnya :
Batanyo Lapeh Orak, Barundiang Sudah Makan (Bertanya Lepas Lelah, Berunding Sesudah Makan)
Artinya : kalau ingin bertanya kepada seseorang yang baru datang ke tempat kita tentang maksud kedatangannya, adat mengajarkan supaya kita harus bersabar, sampai yang bersangkutan hilang lelahnya selama perjalanan, barulah kita mengajukan pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu kita.
           Kalau orang minang kedatangan tamu, tuan (nyonya) rumah biasanya mempersilahkan tamu itu duduk lebih dulu. Nyonya rumah langsung menyuguhkan minuman pelepas lelah. setelah rasa haus dan dahag si tamu hilang, barulah si nyonya rumah bertanya tentang maksud kedatangannya.
           Begitu pula bila kita sedang menunggu kedatangan rombongan tamu yang sudah kita ketahui maksud kedatangannya, misalnya untuk merundingkan perkawinan, maka rombongan tamu itu langsung disuguhi minuman pelepas lelah, kemudian biasanya diajak makan (biasanya makan malam). setelah selesai makan, barulah diajak berunding mengenai pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan.
           Begitulah kira-kira aturan yang dipakai dalam hal "bertanya" dan "berunding" menurut adat minang.

2. Adat Sopan Santun
       Contoh diatas dapatlah kita katakan sebagai salah satu contoh adat sopan santun atau etika dalam pergaulan yang diinginkan oleh adat minang.
          Contoh lainnya seperti :
Bajalan Ba Nan Tuo, Balayie Ba Nakhodo (Berjalan Bersama Yang Tua, Berlayar Bernakhoda)
Artinya : Bila kita mengutus suatu rombongan untuk berkunjung kepada keluarga lain untuk menyampaikan hajat keluarga, misalnya untuk meminang atau bahkan untuk melakukan perjalanan jauh, harus ada yang ditunjuk atau dituakan untuk memimpin rombongan itu sebagai kepala rombongan atau sebagai pemimpin. 
Jadi orang yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan itu adalah orang tua, yang berwenang mewakili orang tua, yang berwenang mewakili keluarga dan orang yang arif bijaksana.
         Begitu juga dengan pengertian Balayie Ba Nakhodo. yang harus diangkat sebagai kepala rombongan itu haruslah orang yang sudah banyak makan garamnya penghidupan (pengalaman).
        Masih banyak lagi pepatah yang mengatur adat sopan santun ini seperti kewajiban menghormati yang lebih tua dan sebagainya, seperti diungkapkan dalam pepatah :
Nan Tuo Dihormati, Samo Gadang Ajak Bakawan, Nan Ketek Disayangi, Salah Ka Manusia Minta Maaf, Salah Ka Tuhan Minta Ampun (Yang Tua Dihormati, Seusia Ajak Berkawan, Yang Kecil Disayangi, Salah Kepada Manusia Minta Maaf, Salam Kepada Tuhan Minta Ampun).
       Demikianlah sekedar contoh adat sopan santun yang berlaku dalam masyarakat minang, yang perlu dilestarikan dan dimasyarakatkan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
          Demikian tulisan saya kali ini mengenai adat minang kabau dalam pola dan tujuan hidup orang minang.
Semoga Bermanfaat .

 DAFTAR PUSTAKA
Amir M.S. 1985. Tonggak Tuo Budaya Minang. Jakarta: Karya Indah
Amir M.S. 2001. Adat Minang Kabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: 
                            Mutiara Sumber Widya
Amran Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan
Bandaharo, Dt. Tambo Alam Sarato Panitahan Alua Pasambahan Adat Minangkabau. Jakarta:   
                           Lestari
 

Rabu, 01 Oktober 2014

Kepribadian Berdasarkan Urutan Kelahiran

Kali ini saya akan membahas kepribadian berdasarkan urutan kelahiran, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kepribadian seseorang. Saya akan memberikan ulasan kepribadian seseorang berdasarkan urutan lahir di keluarganya dari berbagai sumber yang saya pelajari :

1. Anak sulung
Dalam keluarga, anak pertama sangat berpengaruh terhadap adik-adiknya. Ia adalah seorang pemimpin yang bertanggungjawab, responsif, berpikiran tajam, dapat diandalkan, dan menjadi pusat perhatian. Sayangnya, anak pertama seringkali merasa tertekan dengan berbagai tuntutan orang tuanya. Ia juga cenderung merasa terbebani dengan keinginan orang tua yang perfeksionis. Oleh sebab itu, banyak anak sulung yang mendapatkan jabatan seperti direktur atau CEO, meski tak jarang banyak pula yang gagal.

2. Anak tengah
Menjadi anak tengah, biasanya bersikap sebagai penengah. Ia cenderung memisahkan kakak dan adiknya jika tengah bersitegang. Dalam keluarga, anak tengah kurang memiliki peranan yang cukup penting, karena sering menyendiri. Meski begitu, anak tengah memiliki banyak teman karena ia memiliki sedikit aturan yang lebih longgar. Kebanyakan, anak tengah memiliki jiwa petualang, berjiwa seni, mandiri, dan tidak rapi. Sayangnya, hal tersebut adalah bentuk pengalihan bahwa dirinya kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Dan lagi, ia seringkali merasa tak jauh lebih baik dari kakaknya.

3. Anak bungsu
Berbeda dengan kedua kakaknya, anak bungsu cenderung lebih sering manja dan minta diperhatikan. Hal ini yang membuat tanggung jawabnya sedikit berkurang. Biasanya, anak bungsu dikenal ramah, supel, banyak teman, impulsif, dan berjiwa bebas.

4. Anak tunggal
Sebagai anak tunggal, ia cenderung perfeksionis dan egois. Meski begitu, ia bisa diandalkan dan seringkali merasa senang menjadi pusat perhatian.

Senin, 29 September 2014

Sibayak Merdeka

        Ada hal menarik ketika saya mendaki gunung sibayak untuk yang ketiga kalinya di kabupaten karo, Sumatera Utara, yang pertama yaitu, perjalanan saya kali ini bertepatan dengan momen HUT RI yang ke-69, yang kedua, saya bertemu dengan para wisatawan lokal maupun wisatawan asing untuk menyaksikan pengibaran bendera merah putih di puncak sibayak, yang ketiga dan yang saya takjubkan yaitu ada sekitar ratusan bahkan ribuan para pendaki dari berbagai kalangan baik itu dari mahasiswa, umum, wartawan, wisatawan lokal dan wisatawan asing untuk menyaksikan dan melaksanakan pengibaran bendera merah putih di puncak sibayak.
        Perkenalkan nama saya Januardi Efendi, saya seorang mahasiswa semester akhir dari salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara, saya sangat hobi menjelajah alam atau biasa disebut Travelling.
hobi saya ini dimulai sejak masa-masa awal perkuliahan, dimana ketika itu saya beserta teman-teman sangat hobi mengitari wisata-wisata alam, baik yang ada di provinsi sumatera utara maupun diluar sumatera utara.
        16 agustus 2014 pukul 19.00 wib, ketika itu saya dan teman-teman berkumpul di salah 1 titik di kota Medan untuk memulai titik keberangkatan menuju kawasan pegunungan di Brastagi, kami memulai perjalanan tepat pukul 22.00 wib, maklum situasi saat itu berada pada jam nya kaum muda, yaitu malam minggu. perjalanan dari Medan kami tempuh sekitar 2-3 jam untuk menuju Brastagi, tepat pukul 00.00 wib kami sampai di Penatapan, Brastagi, kami singgah untuk beberapa jam dikawasan ini, maklum kami pergi dengan perlengkapan seadanya, sehingga saya dan teman-teman memutuskan untuk memulai pendakian tepat pukul 03.00 dini hari, alasan utama yaitu kami tidak membawa tenda perkemahan untuk mendaki.
         Singkat cerita kami memulai pendakian di kaki gunung sibayak, alangkah takjubnya saya ketika itu, sebab pendakian saya untuk pengalaman kali ini sungguh luar biasa, saya menemukan ratusan bahkan ribuan para pendaki untuk melaksanakan misi melaksanakan pengibaran bendera merah putih 17 Agustus 2014 di puncak sibayak. pukul 06.00 wib kami tiba di puncak sibayak, syukur alhamdulillah cuaca sangat bersahabat kala itu walaupun hari sebelumnya dikawasan ini diguyur hujan seharian.
         17 agustus 2014, pukul 07.00 wib ketika matahari mulai terbit dari arah timur atau biasa disebut sunrise, saya sungguh menemukan hal yang tak biasa sebelumnya,  dimana semua para pendaki bersiap untuk memulai merayakan HUT RI ke 69 kali ini, yang pertama pengibaran bendera merah putih dengan panjang 20-30 meter, yang kedua menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan yang ketiga tepat pukul 10.00 wib semua pendaki bersiap untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih, dan yang terakhir yaitu perayaan panjat pinang oleh sesama pendaki untuk membangkitkan jiwa nasionalisme, hal yang luar biasa, 1 hari pengalaman yang saya peroleh dari para aktivis peduli lingkungan.
         Dan jam pun telah menunjukkan pukul 12.00 wib, saya dan teman-teman segera kembali ke Medan untuk memulai aktivitas kembali di hari esok. sekian cerita dari saya. salam HUT RI ke-69. MERDEKAAAAA !!!!!

Mengenai Saya

Foto saya
"Apapun keadaan keluarga kita sekarang, tetaplah bersyukur karena dari situlah kita belajar apa itu kuat" @januardi_efendi - Universitas Negeri Medan - Sumatera Utara