Kali ini saya akan membahas pola dan tujuan hidup orang minang, tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber, baik itu dari literatur, diskusi dari keluarga saya sendiri, dari para ahli, dari niniak mamak, dari bundo kanduang, alim ulama, cendikiawan, para pakar adat, dan pencinta adat minang, kebetulan juga saya keturunan minang dan berasal dari keluarga minang .
ADAT SOPAN SANTUN DALAM SUKU MINANG KABAU
1. Arti Adat Bagi Orang Minang
Kalau orang minang ditanya adat itu apa ? jawabannya sederhana saja. peraturan hidup sehari-hari. kalau hidup tanpa aturan bagi orang minang namanya "tak beradat". jadi aturan itulah yang dinamakan adat. adat itulah yang menjadi pakaiannya sehari-hari.
Bagi orang minang, duduk dan berdiri selalu beradat, berbicara beradat, berjalan beradat, makan dan minum beradat, bertamu beradat, bahkan, menguap dan batuk pun bagi orang minang beradat. adat yang semacam ini, mungkin dapat kita sebut dengan adat sopan santun dalam pergaulan segari-hari. apakah adat minang hanya mengatur sopan santun dalam pergaulan saja ? Jawabnya pastilah tidak. Masih banyak aturan-aturan lain yang terdapat dalam adat minang, yang justru mengatur hal-hal yang sangat mendasar.
Hal-hal yang sangat mendasar itu seperti landasan berpikir, nilai-nilai dalam kehidupan, norma-norma dalam pergaulan, falsafah hidup, dan hukum-hukum yang harus dipatuhi. Kalau dipelajari lebih mendalam, adat minang itu sesungguhnya adalah suatu konsep kehidupan yang disiapkan nenek moyang orang minang untuk anak cucunya, yang bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.
Contoh beradat itu misalnya :
Batanyo Lapeh Orak, Barundiang Sudah Makan (Bertanya Lepas Lelah, Berunding Sesudah Makan)
Artinya : kalau ingin bertanya kepada seseorang yang baru datang ke tempat kita tentang maksud kedatangannya, adat mengajarkan supaya kita harus bersabar, sampai yang bersangkutan hilang lelahnya selama perjalanan, barulah kita mengajukan pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu kita.
Kalau orang minang kedatangan tamu, tuan (nyonya) rumah biasanya mempersilahkan tamu itu duduk lebih dulu. Nyonya rumah langsung menyuguhkan minuman pelepas lelah. setelah rasa haus dan dahag si tamu hilang, barulah si nyonya rumah bertanya tentang maksud kedatangannya.
Begitu pula bila kita sedang menunggu kedatangan rombongan tamu yang sudah kita ketahui maksud kedatangannya, misalnya untuk merundingkan perkawinan, maka rombongan tamu itu langsung disuguhi minuman pelepas lelah, kemudian biasanya diajak makan (biasanya makan malam). setelah selesai makan, barulah diajak berunding mengenai pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan.
Begitulah kira-kira aturan yang dipakai dalam hal "bertanya" dan "berunding" menurut adat minang.
2. Adat Sopan Santun
Contoh diatas dapatlah kita katakan sebagai salah satu contoh adat sopan santun atau etika dalam pergaulan yang diinginkan oleh adat minang.
Contoh lainnya seperti :
Bajalan Ba Nan Tuo, Balayie Ba Nakhodo (Berjalan Bersama Yang Tua, Berlayar Bernakhoda)
Artinya : Bila kita mengutus suatu rombongan untuk berkunjung kepada keluarga lain untuk menyampaikan hajat keluarga, misalnya untuk meminang atau bahkan untuk melakukan perjalanan jauh, harus ada yang ditunjuk atau dituakan untuk memimpin rombongan itu sebagai kepala rombongan atau sebagai pemimpin.
Jadi orang yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan itu adalah orang tua, yang berwenang mewakili orang tua, yang berwenang mewakili keluarga dan orang yang arif bijaksana.
Begitu juga dengan pengertian Balayie Ba Nakhodo. yang harus diangkat sebagai kepala rombongan itu haruslah orang yang sudah banyak makan garamnya penghidupan (pengalaman).
Masih banyak lagi pepatah yang mengatur adat sopan santun ini seperti kewajiban menghormati yang lebih tua dan sebagainya, seperti diungkapkan dalam pepatah :
Nan Tuo Dihormati, Samo Gadang Ajak Bakawan, Nan Ketek Disayangi, Salah Ka Manusia Minta Maaf, Salah Ka Tuhan Minta Ampun (Yang Tua Dihormati, Seusia Ajak Berkawan, Yang Kecil Disayangi, Salah Kepada Manusia Minta Maaf, Salam Kepada Tuhan Minta Ampun).
Demikianlah sekedar contoh adat sopan santun yang berlaku dalam masyarakat minang, yang perlu dilestarikan dan dimasyarakatkan secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Demikian tulisan saya kali ini mengenai adat minang kabau dalam pola dan tujuan hidup orang minang.
Semoga Bermanfaat .
DAFTAR PUSTAKA
Amir M.S. 1985. Tonggak Tuo Budaya Minang. Jakarta: Karya Indah
Amir M.S. 2001. Adat Minang Kabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta:
Mutiara Sumber Widya
Amran Rusli. 1981. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan
Bandaharo, Dt. Tambo Alam Sarato Panitahan Alua Pasambahan Adat Minangkabau. Jakarta:
Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar